Catatan Nandy

Home » Casual Discussion » Perang dengan dahaga

Perang dengan dahaga

Categories

Follow Catatan Nandy on WordPress.com

Pada bulan Ramadhan tahun 584 H atau Juli 1187 M, terjadi Perang Hittin atau di dunia barat dikenal dengan Perang Salib ke-2.

Peperangan tersebut terjadi antara tentara muslim yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayyubi dengan tentara salib yang dipimpin oleh Guy de Lusignan.

Yang menjadi menarik adalah pertempuran tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, dimana keyakinan kaum muslimin adalah menjalankan ibadah puasa, sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 183


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”



Singkat cerita peperangan tersebut dimenangkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Diceritakan dari generasi ke generasi faktor penting kemenangan pasukan muslim adalah berhasil dikuasainya sumber – sumber air, sehingga pasokan air untuk musuh tidak ada dan mereka kehausan.

Haus… Menarik

Perang tersebut adalah perang berbasis keimanan. Landasan iman adalah rasa yakin dan percaya. Dua kubu tersebut mengusung keimanan masing – masing.
Pada kubu pasukan muslimin, bulan Ramadhan ada sebuah perintah yang wajib dijalankan yaitu berpuasa, untuk membuktikan kepada Allah merekalah orang – orang yang bertakwa. Dan faktanya adalah kubu musuh yang kehausan.

Kita adalah generasi ratusan tahun kemudian yang tidak mengalami, merasakan, melihat dan mendengar langsung peperangan tersebut, sehingga yang bisa dikembangkan hanyalah dugaan.

Mungkin ada dugaan:

Memang bulan Ramadhan, tetapi keadaan tersebut adalah darurat saat itu, sehingga mungkin pasukan Shalahuddin Al Ayyubi tidak berpuasa.

atau boleh juga kan…

Itu bulan Ramadhan, perintahnya adalah berpuasa. Dan pasukan Shalahuddin Al Ayyubi berperang atas dasar iman. Karena mereka beriman, maka menjalankan perintah-Nya, berpuasa.

Berpuasa… Apa sih hakikatnya?

Bagi saya yang awam ilmu agama, berpuasa itu adalah menahan diri dari godaan. Itu adalah pembuktian ketakwaan kepada Sang Pencipta, sebagai hamba-Nya.

Marah, iri, benci, dengki, bohong, tamak… Sebut saja apa pun itu yang jadi dorongan nafsu…. Maka puasa adalah jawabannya… Dan saya harus siap menyediakan cermin utk diri sendiri apakah saya mampu?

Lapar dan haus itu sangat fisik… godaan yang seharusnya paling rendah derajatnya utk ditahan daripada godaan fitnah misalnya. Maka bukan mustahil.. pasukan Shalahuddin atas dasar keimanan, godaan lapar dan haus adalah perkara sederhana.

Apa itu? Ketahanan fisik!

Tertarik dengan kunci kemenangan pasukan Shalahuddin, yaitu rasa haus.
Menurut McKinley dan Johnson (2004) rasa haus adalah sinyal dari tubuh terhadap defisit cairan ekstraseluler atau intraseluler. Rasa haus itu persepsi subyektif yang mendorong manusia untuk minum. Respons ini diikuti dengan rangkaian pelepasan hormon vasopresin (yang berperan mengatur kadar cairan tubuh), menstimulasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (sistem hormon yang mengatur sirkulasi dan tekanan darah), aktivasi saraf simpatik (yang secara otonom bekerja dibawah sadar utamanya menjaga fungsi homeostasis, apa itu? Sebut saja temperatur tubuh dll) dan mengurangi pelepasan larutan dan cairan pada ginjal.

Bla bla bla panjangnya baca sendiri, Lho?  😀 intinya sama seperti pemahaman sebagian besar orang bahwa rasa haus itu adalah respons tubuh atas terjadinya kekurangan cairan tubuh.

Maka kata kuncinya adalah rasa haus  itu subyektif, respons tubuh terjadinya kekurangan cairan, sehingga mendorong keinginan seseorang untuk minum, namun diikuti mekanisme tubuh untuk mempertahankan dng cara meminimalisasi perubahan volume dan komposisi cairan dalam tubuh.

Kembali ke topik puasa, kita menahan diri. Indonesia kira – kira 12-13 jam berpuasa. Di negara barat, dapat sampai 18-19 jam bahkan lebih saat musim tertentu. Saya penganut aliran menahan diri dari dahaga dan lapar adalah tingkatan terendah dari upaya menahan diri, karena mudah dilatih. Karena saya masih perlu belajar menahan diri dari rasa amarah, iri, dengki dkk yang itu sangat susah utk dilatih. Semakin menarik, ada ulasan di harian Republika tahun 2013 bahwa tidak sedikit orang mengira berpuasa adalah semata menahan lapar dan haus.

Sepakat… Melihat fenomena balas dendam ketika berpuasa. Balas dendam ini maksudnya, seseorang mempersepsikan diri lapar dan haus, di jalanan banyak orang bermotif ekonomi menjajakan aneka panganan, yang membuat mata mengirimkan visual ke otak, kemudian melanjutkan pesan ke lidah orang berpuasa untuk mengecap ngecap kering, dan akhirnya menggerakkan tangan utk membeli dan sedikit mengurangi rasa pertimbangan mampukah menghabiskan aneka rupa yang dibeli itu.

Well… Itu kembali pada diri sendiri, karena rasa itu adalah subyektif.
Maka saya akan mencari motivasi.
Belajar bagaimana Ramadhan di negara lain. Ramadhan sebagai minoritas, dng waktu yang lebih panjang (terima kasih teknologi), “a very british ramadhan”

https://youtu.be/Gl-NXk_6CQM

Catatan saya dari video itu, kehidupannya tetap normal dengan beberapa perubahan. Tetap bekerja, tetap olah raga, budaya breakfast dalam hal ini sahur tetap banyak buah, yoghurt, chickpeas… Hmm very british… Dng tambahan bahasa muslim universal, ifthar dng kurma dan makan bersama. Mereka sahur tetap makan secukupnya, berbuka dng makan secukupnya… Menjadi tambah menarik adalah budaya berbagi.. justru mereka berbagi makanan pada yg tidak berpuasa.

Kembali ke menahan rasa haus… Saya tertarik pada video tersebut, karena mereka tetap olah raga.



500an tahun setelah masa Kanjeng Nabi Muhammad, Shalahuddin Al Ayyubi mampu meraih kemenangan dengan memutar balikkan rasa haus.

1000an tahun setelah masa Kanjeng Nabi Muhammad, ada saudara – saudara saya di belahan bumi lain yang masa berpuasanya lebih panjang, dengan ketahanan fisik luar biasa dan tetap berolahraga.

Stay fit…

Saya ingin berlatih untuk memenangkan level terendah, menahan diri dari rasa lapar dan haus, karena PR saya masih banyak utk menahan godaan hawa nafsu selanjutnya


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: